Selama beberapa dekade terakhir, dolar Amerika Serikat (USD) telah menjadi poros utama dalam sistem keuangan global. Mata uang ini bukan hanya digunakan dalam perdagangan internasional, tetapi juga mendominasi cadangan devisa berbagai negara. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi COVID-19 dan konflik geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina, muncul pertanyaan besar: apakah dominasi dolar masih kokoh di tengah krisis global saat ini?

Dolar AS dan Sistem Keuangan Dunia

Sejak perjanjian Bretton Woods berakhir di awal 1970-an, dolar AS secara efektif menjadi mata uang cadangan dunia. Hal ini memberi Amerika kekuatan luar biasa — kemampuan untuk mencetak uang yang digunakan di seluruh dunia. Negara-negara lain menyimpan dolar untuk kebutuhan impor, pembayaran utang, dan investasi. Namun, kekuatan ini juga menjadikan sistem global sangat rentan terhadap kebijakan moneter dan fiskal AS.

Ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga, dampaknya terasa di seluruh dunia — dari nilai tukar mata uang negara berkembang hingga biaya pinjaman global. Inilah salah satu alasan mengapa dominasi dolar sering dipertanyakan, apalagi saat krisis melanda.

Krisis Global dan Ketidakpastian Ekonomi

Pandemi global dan krisis energi yang diperparah oleh invasi Rusia ke Ukraina memicu gejolak ekonomi besar-besaran. Negara-negara mulai menyadari ketergantungan mereka pada dolar dan risiko yang ditimbulkannya. Inflasi melonjak, utang publik membengkak, dan banyak negara berkembang menghadapi tekanan besar karena kewajiban utang luar negeri mereka dalam dolar.

Lebih lanjut, kebijakan sanksi ekonomi oleh AS terhadap negara-negara seperti Rusia telah memicu kekhawatiran bahwa dolar bisa digunakan sebagai “senjata” politik. Ini mempercepat dorongan untuk mencari alternatif dari sistem keuangan yang didominasi AS.

Munculnya Gerakan De-dolarisasi

De-dolarisasi — upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam perdagangan dan cadangan devisa — kini menjadi agenda strategis beberapa negara. BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) bahkan mulai merancang mata uang bersama atau sistem pembayaran alternatif yang tidak melibatkan dolar.

Tiongkok, dengan yuan-nya, secara agresif mempromosikan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara, terutama dalam perdagangan energi dengan Rusia dan negara-negara di Asia Tengah. Arab Saudi bahkan dikabarkan mulai membuka diri terhadap kemungkinan penjualan minyak dalam mata uang non-dolar.

Apakah Ini Akhir Dominasi Dolar?

Meski de-dolarisasi menjadi tren, kenyataannya, dominasi dolar belum runtuh. Lebih dari 80% perdagangan global masih menggunakan dolar, dan sekitar 60% cadangan devisa dunia masih berbasis USD. Pasar keuangan global tetap mengandalkan obligasi pemerintah AS sebagai aset aman.

Namun, yang berubah adalah persepsi. Banyak negara kini mulai mengambil langkah antisipatif. Diversifikasi cadangan, penggunaan sistem pembayaran alternatif seperti CIPS milik Tiongkok atau sistem lokal berbasis blockchain, dan kerja sama bilateral tanpa dolar mulai tumbuh.

Selain itu, utang nasional AS yang terus meningkat — melebihi $34 triliun — dan ketidakpastian politik domestik turut melemahkan kepercayaan terhadap dolar dalam jangka panjang.

AS: Masih Memegang Kendali, Tapi…

Amerika Serikat masih memegang kendali, setidaknya untuk saat ini. Namun, kendali itu kini semakin ditantang oleh kekuatan-kekuatan baru yang berusaha menciptakan sistem keuangan multipolar. Dunia tampaknya bergerak menuju tatanan di mana dolar bukan lagi satu-satunya raja, melainkan salah satu dari beberapa kekuatan utama.

Dalam jangka pendek, sangat kecil kemungkinan mata uang lain bisa sepenuhnya menggantikan peran dolar. Infrastruktur keuangan global, kedalaman pasar keuangan AS, dan kepercayaan terhadap sistem hukum AS masih menjadi daya tarik utama.

Namun, dalam jangka panjang, perubahan sedang terjadi. Krisis global menjadi katalisator bagi transformasi ini. Dunia sedang mengkalibrasi ulang ketergantungannya terhadap dolar — dan Amerika harus bersiap menghadapi dunia yang tidak lagi sepenuhnya tunduk pada mata uangnya.


Kesimpulan

Krisis global saat ini bukan hanya mengguncang ekonomi, tetapi juga mengguncang tatanan kekuatan moneter dunia. Dolar AS, meskipun masih dominan, mulai menghadapi tantangan dari berbagai arah — dari krisis geopolitik hingga strategi de-dolarisasi negara-negara pesaing. Pertanyaan “Apakah AS masih memegang kendali?” jawabannya adalah: ya, tapi tidak sekuat dulu.